Rabu, 26 Januari 2011

AQIDAH DAN AKHLAK

I. PENDAHULUAN

Aqidah asas ketauhidan yang membawa pada pemahaman dan pembelajaran mengenai Kemahaesaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan, dan wujud-Nya.

Akhlak sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khalik dengan makhluk. Rosulullah pun diutus oleh Allah Swt dibumi untuk menyempurnakan akhlak, sesuaiu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, yaitu “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Seorang mukmin hendaknyalah menjadikan dirinya untuk selalu menjaga akhlaknya supaya keimananya dapat terpenuhi dengan sempurna, dalam hadits Rosulullah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menjelaskan bahwa “mukmin yang paling sempurna imanya adalah orang yang baik akhlaknya”.



II. PEMBAHASAN

A. DEFINISI AQIDAH

Secara etimologi aqidah diambil dari kata dasar "al-‘aqdu", memiliki berbagai tafsiran, yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan)[1].

Disebut ikatan atau sangkutan karena aqidah mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu dalam Islam, jadi aqidah memiliki kedudukan sangat sentral dan fundamental, karena itu aqidah ditautkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam[2].

Secara terminologi yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh

dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan[3]. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang meyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya, yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada tingkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.



B. DEFINISI AKHLAK

Secara etimologi akhlak berasal dari bahasa Arab, berbentuk jamak dari “khuluqun” yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat[4].

Secara terminologi, Prof. Dr. Ahmad Amin memberikn definisi bahwa yang disebut akhlak yaitu “Adatul-Iradah” atau kehendak yang dibiasakan. Dan dalam pengertian yang hampir sama, Dr. M Abdullah Dirroz mengemukakan definisi akhlak yaitu suatu kekuatan dalam kehendak berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat)[5].

Perbuatan-perbuatan manusia menurut Abdulloh Dirroz, dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya apabila dipenuhi dua syarat, yaitu:

1. Pebuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga menjadi kebiasaan.

2. perbuatan-perbuatan itu dilakukan dilakukan karena dorongan emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang datang dari luar jiwa.

Akhlak bukanlah perbuatan, melainkan gambaran bagi jiwa yang tersembunyi. Oleh karenanya dapatlah disebut akhlak itu adalah nafsiah (bersifat kejiwaan) atau maknawiyah (sesuatu yang abstrak), jadi sedangkan yang kelihatan dinamakan muamalah (tindakan) atau suluk (perilaku), maka akhlak adalah sumber dan perilaku adalah bentuknya.



C. METODE PENCAPAIAN AQIDAH DAN AKHLAK

Aqidah dalam pengertian teknis artina adalah iman atau keyakinan.aqidah Islam (Aqidah Islamiyah), karena itu aqidah islamiyah juga ditautkan dengan Rukun Iman yang merupakan dasar-dasar keislaman. Jadi aqidah perananya terletak pada keyakinan yang sebenar-benarnya, dengan sepenuh hati, secara lisan maupun dalam hati.

Akhlak atau juga dapat disebut dengan sistem perilaku terjadi melalui satu konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu harus terwujud.semua itu terletak pada sistem ideanya, yaitu berupa hasil proses (penyebaran) dari pada kaedah-kaedah yang dihayati dan dirumuskan sebelumnya (norma yang bersifat normatif dan norma yang bersifat deskripif).

Metode pencapaian aqidah dan akhlak atau sistem perilaku dapat diusahakan pencapaianya melalui sekurang-kurangnya dua pendekatan:

1. Rangsangan-jawaban (stimulus-response) atau disebut proses mengkondisi sehingga terjadi automatisasi, dan dapat dilakukan dengan cara beikut:

a. Melalui latihan

b. Melalui tanya jawab

c. Melalui mencontoh

2. Kognitif yaitu penyampaian informasi secara teoritis yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:

a. Melalui da’wah

b. Meleui ceramah

c. Melalui diskusi

Dari pendekatan diatas akan tercapai sebuah aqidah, dan setelah pola perilaku berupa akhlak atau sistem perilaku terbentuk maka sebagai kelanjutanya akan lahir hasil-hasil dari pola perilaku tersebut yang berbentuk materi (artifacts) maupun non-material (konsepsi, idea).

D. PRINSIP-PRINSIP AQIDAH

Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada Zat Mutlak Yang Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya. Kemaha Esaan allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman dan prima causa seluruh keyakinan Islam.

Jadi secara sederhana tampak logis dan sistematis pada prinsip aqidah terangkum dengan istilah Rukun Iman. Pokok-pokok keyakinan ini merupakan asas seluruh ajaran Islam, yang berjumlah enam dimulai dari (a) keyakinan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, lalu (b) keyakinan pada Malaikat-malaikat, (c) keyakinan pada kitab suci, (d) keyakinan pada para Nabi dan Rasul Allah, (e) keyakinan akan adanya Hari Akhir, dan (f) keyakinan pada Qada’ dan Qadar Allah. Pokok-pokok keyakinan atau Rukun Iman ini merupakan aqidah Islam[6].



E. PRINSIP-PRINSIP AKHLAK

Akhlak bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit sosial dari jiwa dan mental. Tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dua simbolis tujuan inilah yang diidamkan manusia, yang bukan semata berakhlak untuk kehidupan di dunia semata.

Prinsip-prinsip dalam ajaran akhlak memelihara terhadap sifat terpuji, prinsip tersebut yaitu:

1. Kebajikan yang Mutlak

Islam menjamin kebajikan mutlak. Karena Islam telah menciptakan akhlak yanh luruh. Islam menjamin kebaikan yang murni baik untuk perorangan atau masyarakat pada setiap keadaan dan waktu bagaimanapun.

2. Kebaikan yang Menyeluruh

Aklak islami menjamin kebaikan untuk seluruh umat manusia. Baik segala jaman, semua tempat, mudah tidak mengandung kesultan dan tidak mengandung perintah besat yang tidak dikerjakan oleh umat manusia diluar kemampuanya.

3. Kemantapan

Akhlak islamiyah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia. Ia bersifat tetap, langeng dan mantap, sebab yang menciptakan Tuhan yang bijaksana, yang selalu memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak.

4. Kewajiban yang Dipatuhi

Akhlak yang bersumber dari agama Islam wajib ditaati manusia. Sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir batin dan dalam keadaan suka dan duka, juga tunduk pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya.

5. Pengawasan yang Menyeluruh

Agama Islam adalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat, Islam menghargai hati nurani bukan dijadikan tolak ukur dalam menetapkan beberapa usaha.



III. KESIMPULAN

1. Aqidah merupakan kata serapan dari bahasa Arab (dalam bahasa Indonesia ditulis akidah) secara bahasa adalah ikatan dan atau sangkutan.

2. Aqidah secara praktis artinya adalah iman atau keyakinan, karena itu ditautkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam.

3. Akhlak secara bahasa berasal dari bahasa Arab, berbentuk jamak dari “khuluqun” yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Dan menurut istilah akhlak adalah adatul-iradah.

4. Akhlak bukanlah perbuatan, melainkan gambaran bagi jiwa yang tersembunyi jadi dapatlah disebutkan bahwa akhlak itu adalah nafsiyah (bersifat kejiwaan).



IV. PENUTUP

Pembelajaran tentang aqidah dan akhlak diharapkan dapat membawa kepada pemahaman dan kesempurnaan dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Serta memberikan dan mengutkan wawasan.

Begitu pentingnya peranan aqidah dan akhlak, maka pembelajaran tersebut dapatlah menjadi hal yang toeritis maupun praktek. Jadi ketika sebuah teori telah dipelajari, praktek pun juga bisa dilaksanakan.


V. DAFTAR PUSTAKA

Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.

Daradjat, Zakiah,dkk. 1992. Dasar-Dasar Agama Islam. Jakarta: Karya Unipress.

Ali, Mohammad Daud. 2004. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=683&Itemid=4

http://www.sabah.gov.my/jheains/Aqidah.htm

http://aliasppd.tripod.com/pengertianakhlak.htm





[1] http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=683&Itemid=4

[2] Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), cet.IV, hlm.199.

[3] http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=683&Itemid=4



[4] Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), cet.II, hlm.11.

[5] Ibid, hlm.14.

[6] Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), cet.IV, hlm.201.
Sebelumnya: TEKNIK PENULISAN NASKAH BERITA UNTUK MEDIA TV
Selanjutnya : I’JAZUL QURAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar